SITALANG, PortalJateng.id – Di balik panggung sederhana dari meja pingpong bekas yang ditutup karpet merah, ada dua sosok muda yang turut menjaga jalannya malam tirakatan HUT RI ke-81 di Kampung Sitalang. Mereka adalah Miftahatus Salmah dan Azzhafyra Maulydhiena Riyadi, dua mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di lingkungan RW08, Kelurahan Susukan, Kecamatan Ungaran Timur.
Malam Minggu, 16 Agustus 2026, menjadi malam yang tak terlupakan bagi keduanya. Bukan hanya karena mereka dipercaya menjadi MC, tetapi karena melalui panggung sederhana itu, mereka belajar sesuatu yang tidak diajarkan di bangku kuliah, kemerdekaan tidak selalu dirayakan dengan gegap gempita, tetapi juga dengan doa, hening, dan kebersamaan yang tulus.
Salma, sapaan akrab Miftahatus Salmah, adalah mahasiswi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam asal Kebumen. Sementara Vira, panggilan Azzhafyra Maulydhiena Riyadi, berasal dari Kota Semarang dan mengambil jurusan Sosiologi. Keduanya tergabung dalam kelompok KKN yang ditempatkan di RW08. Sejak awal, mereka memilih untuk tidak hanya menjalani program wajib, tetapi juga meresap ke dalam kehidupan warga.
“Di awal KKN, kami melakukan silaturahmi ke rumah Pak Didit, Ketua RT06. Kami juga ikut dalam beberapa kegiatan warga,” kenang Salma kepada PortalJateng.id. “Sampai akhirnya, sebelum malam tirakatan, kami ditawari untuk menjadi MC,” tambahnya dengan senyum.
Vira menceritakan hal serupa. “Kami bertiga, saya, Salma, dan Surya, melakukan sowan terlebih dahulu ke Pak Didit. Kami juga ikut kerja bakti dan perlombaan 17-an. Setelah itu, kordes kami mendapat informasi bahwa panitia tirakatan meminta bantuan anak KKN untuk menjadi MC,” jelasnya.
Menjadi MC di acara sakral seperti malam tirakatan bukanlah perkara mudah. Apalagi bagi mahasiswi yang baru pertama kali terjun langsung ke tengah masyarakat. Tantangan fisik dan mental harus mereka siapkan.

“Tantangan terbesar adalah harus siap fisik dan mental. Menjadi MC harus percaya diri di depan banyak orang dan bisa memandu dengan baik,” ungkap Salma dengan jujur.
Vira menambahkan, “Kami harus siap jika nantinya banyak perubahan sesi acara. Sejak awal, kami harus punya plan lain jika rangkaian acara tiba-tiba berubah,” terangnya.
Persiapan pun mereka lakukan dengan serius. Salma dan Vira berlatih bersama, melatih kosa kata agar tidak kesleo saat berbicara di depan umum. Malam sebelum acara, mereka bertemu dengan Ajipasa Lukadinata, Ketua Panitia HUT RI ke-81, untuk berdiskusi mengenai rangkaian acara dan mempelajari susunan teks MC yang diberikan.
“Malam itu kami bertemu Pak Ajipasa. Kami berdiskusi dan mempelajari susunan teks MC,” kenang Vira.

Meskipun persiapan sudah matang, momen tegang tetap datang. Salma mengaku sempat gugup saat melihat banyak orang berdatangan dan kurangnya briefing dengan panitia lain. Namun, kepercayaan diri dan latihan yang sudah dilakukan membantu mereka melewati momen itu.
Selama acara berlangsung, ada satu momen yang paling membekas di hati Salma dan Vira: pembagian hadiah lomba.
“Saya bisa melihat bagaimana kompaknya dan baiknya masyarakat untuk menyisihkan sebagian rezekinya. Mereka membagikannya ke anak-anak dan masyarakat lain. Itu sangat mengharukan,” ujar Salma dengan mata berbinar.
Vira juga mengingat momen lucu yang terjadi saat pembagian hadiah. “Momen lucunya saat Pak Mustofa membagikan sisa hadiah terakhir. Anak-anak langsung berebut. Lucu sekali melihat antusiasme mereka,” kenangnya sambil tertawa.
Meskipun acara dimulai sedikit mundur dari jadwal, warga tetap antusias mengikuti malam tirakatan hingga selesai. Hal itu menjadi pelajaran berharga bagi Vira tentang arti kesabaran dan kebersamaan.
“Walaupun mulai acaranya sedikit mundur, warga tetap antusias. Itu yang paling berkesan,” tuturnya.
Setelah acara usai, kedua mahasiswi itu merasakan kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Salma mengaku senang dan berharap bisa merasakan pengalaman serupa di lain waktu.

“Saya senang dan bahagia. Saya berharap bisa merasakan hal seperti ini lagi di lain waktu,” ungkapnya dengan penuh haru.
Vira juga merasakan hal yang sama. “Saya sangat senang mendapatkan kesempatan bertugas menjadi MC. Di situ saya belajar bagaimana harus siap jika di tengah acara ada perubahan. Bahkan selesai acara, kami disuguhi banyak makanan yang membuat tenaga kami lebih semangat,” ceritanya sambil tersenyum.
Lebih dari sekadar tugas, pengalaman ini mengubah cara pandang mereka terhadap masyarakat. Salma mengaku awalnya melihat warga RT06 sebagai sosok yang “dingin”. Namun setelah berinteraksi lebih dekat, ia justru menemukan keramahan dan kehangatan yang tulus.
“Awalnya saya melihat masyarakat RT06 dingin. Tapi setelah dekat, saya justru melihat mereka lebih ramah dan merasa lebih dekat,” aku Salma.
Vira pun merasakan hal yang sama. “Saya jadi lebih bisa mengenal berbagai karakteristik warga. Itu pengalaman yang tidak ternilai,” tambahnya.
Makna Tirakatan di Mata Generasi Muda

Bagi Salma dan Vira, malam tirakatan bukan sekadar perayaan biasa. Ia adalah momen untuk memperkuat rasa persaudaraan dan menumbuhkan kesadaran untuk menjadi generasi yang baik di masa depan.
“Malam tirakatan bukan hanya perayaan biasa. Mengumpulkan banyak orang di satu waktu dan saling berinteraksi dapat memperkuat rasa persaudaraan dan menumbuhkan kesadaran untuk menjadi generasi yang baik di masa depan,” jelas Salma.
Vira menambahkan, “Malam tirakatan bagi saya tidak hanya sekadar mengenang jasa pahlawan. Namun, juga menunjukkan bahwa kita sebagai WNI masih bisa menegakkan dan mengibarkan bendera Sang Merah Putih, walaupun di situasi negara yang tidak sesuai apa yang diharapkan masyarakat. Malam tirakatan membuktikan kita tetap harus menjaga persatuan, kesatuan, dan kekeluargaan, terutama untuk generasi muda penerus bangsa,” pungkasnya dengan penuh semangat.
Pesan untuk Generasi Muda: Lestarikan Kebersamaan
Di akhir perbincangan, Salma dan Vira menyampaikan pesan yang menyentuh untuk teman-teman mahasiswa dan generasi muda lainnya.
“Lestarikan hal-hal seperti ini. Karena zaman sekarang, anak muda jarang mau berinteraksi dengan yang lain. Di kesempatan seperti inilah anak muda mau keluar dan berinteraksi dengan orang lain,” pesan Salma dengan nada serius.
Vira menambahkan, “Terus semangat mengajak warga untuk saling bekerja sama, tidak hanya mengandalkan satu orang saja untuk menyusun kegiatan seperti acara malam tirakatan. Dan pastinya, sebagai generasi muda harus tetap semangat, jangan menyerah, teruslah percaya bahwa cita-cita kita akan tercapai,” tambahnya penuh optimisme.
Ikatan yang Tak Terputus
Meskipun KKN akan berakhir, Salma dan Vira berkomitmen untuk tetap menjaga hubungan baik dengan warga Sitalang.
“Pastinya saya akan menjaga hubungan baik dengan warga di sini. Jika ada waktu, saya ingin kembali mengunjungi dan mengenang masa-masa KKN di sini,” ungkap Salma dengan haru.
Vira pun mengatakan hal serupa. “Pastinya kami akan selalu mengingat bahwa kami pernah ada di lingkungan RW08 ini,” tuturnya.
Dua mahasiswi itu pulang dengan membawa lebih dari sekadar pengalaman. Mereka membawa pelajaran bahwa kemerdekaan tidak selalu tentang bendera dan upacara. Ia hidup dalam senyum anak-anak yang berebut hadiah, dalam doa warga yang dipanjatkan di bawah langit malam, dan dalam kebersamaan yang dirajut oleh panggung dari meja pingpong bekas.
Salma dan Vira mungkin hanya dua dari sekian banyak mahasiswa KKN. Tetapi melalui peran kecil mereka di balik panggung sederhana itu, mereka telah menjadi bagian dari cerita kemerdekaan yang tidak pernah usai. Dan di Kampung Sitalang, nama mereka akan selalu dikenang sebagai dua mahasiswi yang berani tampil, rela belajar, dan memilih untuk menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan yang sunyi namun penuh makna.



