JAKARTA – Laporan kinerja Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjadi satu-satunya presentasi yang disambut tepuk tangan dalam Sidang Kabinet Paripurna 2025, Senin (12/12) lalu. Dalam paparannya, Mentan Amran memastikan stok pangan nasional aman dan melaporkan sejumlah capaian positif sepanjang tahun.
Di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan para menteri, Amran menyebut Indonesia telah menyiapkan cadangan beras tiga kali lipat dari kebutuhan untuk penanganan daerah bencana.
“Pangan tidak ada masalah, Bapak Presiden. Kami sudah siapkan 120 ribu ton di lapangan, tiga kali lipat dari kebutuhan,” tegas Amran di Istana Jakarta.

Bantuan Rp1 Triliun untuk Daerah Bencana
Mentan Amran merinci penanganan pascabencana yang mencakup distribusi 44 ribu ton beras dan 6 ribu ton minyak goreng. Total nilai bantuan pemerintah mencapai sekitar Rp1 triliun.
“Ada dua bantuan. Dari pemerintah kurang lebih satu triliun. Dari internal kementerian dan mitra ada Rp75 miliar. Tiga kapal sudah kami berangkatkan,” jelasnya.
Ia juga mengakui adanya 70 ribu hektare sawah yang rusak terdampak bencana dan berjanji penanganan akan dimulai pada Januari 2026 mendatang.
Capaian Kesejahteraan Petani dan Produksi Tembus Rekor
Selain penanganan bencana, laporan tersebut diwarnai sejumlah capaian historis. Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat mencapai 124,36%, jauh melampaui target 110% dan disebut sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah.
Dari sisi produksi, data BPS menunjukkan kenaikan 4,17 juta ton beras lebih cepat dari target. Amran bahkan menyatakan Indonesia akan mencapai swasembada pangan pada 1 Januari 2026.
“Stok beras di akhir tahun insyaallah mencapai 3,7 juta ton. Ini level tertinggi sepanjang sejarah modern Indonesia,” papar Amran, membandingkan dengan kondisi tahun 1984 yang hanya 3 juta ton dengan populasi lebih sedikit.
Ekspor Naik Signifikan dan Harga Pupuk Turun
Sektor ekspor pertanian juga menunjukkan performa gemilang. Hingga Agustus 2025, ekspor tumbuh 42% dibanding periode sama tahun lalu, dengan proyeksi kenaikan akhir tahun 33–35%.
Di sektor pupuk, Amran melaporkan kenaikan volume 700 ribu ton disertai penurunan harga 20% tanpa membebani anggaran negara.
“Ini tidak menambah anggaran, hanya mengubah regulasi yang ada,” jelasnya.
Kontribusi untuk Stabilitas Harga Pangan Dunia
Menutup laporannya, Amran mengungkapkan dampak kebijakan Indonesia terhadap pasar global. Berkat tidak lagi mengimpor beras, harga beras dunia turun dari 650 dolar AS per ton menjadi 340 dolar AS, atau turun 42%.
“Karena Indonesia tidak lagi impor, harga pangan dunia ikut turun. Kementan baru saja menerima penghargaan dari FAO atas kontribusi ini,” pungkasnya.
Bukti Karya yang Membanggakan
Prestasi yang disampaikan Mentan Amran bukan sekadar tabel statistik. Ia adalah bukti konkret yang menegaskan sebuah prinsip: kerja tulus yang dijalankan dengan niat baik dan strategi yang mumpuni mampu menghasilkan lompatan yang membanggakan.
Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, capaian sektor pertanian ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya mampu mencukupi kebutuhan sendiri, tetapi juga berkontribusi menstabilkan pasar pangan dunia. Penurunan harga beras global sebesar 42% adalah pengaruh nyata yang lahir dari konsistensi kebijakan dan pelaksanaan di lapangan.
Kisah sukses ini menjadi teladan dan inspirasi bagi seluruh lini pemerintahan dan anak bangsa. Ia membuktikan bahwa dengan integritas, kerja keras terukur, dan visi yang jelas, sebuah bangsa bisa mengubah tantangan menjadi peluang, dari yang sempat bergantung pada impor menjadi pemain penting yang diperhitungkan di panggung internasional.
Tepuk tangan di ruang kabinet bukan hanya untuk seorang menteri, tetapi untuk seluruh petani, penyuluh, dan insan pertanian yang karyanya telah menjadi landasan kedaulatan dan kebanggaan nasional.



