SEMARANG – Suasana hangat kebersamaan mewarnai kegiatan buka puasa bersama insan pers dan anak yatim yang digelar di Lobby Polrestabes Semarang, Rabu (25/2/2026). Kegiatan yang berlangsung dari pukul 17.00 hingga 18.40 WIB ini dipimpin langsung oleh Kapolrestabes Semarang Kombes Pol M. Syahduddi dan dihadiri para pejabat utama Polrestabes, puluhan wartawan, serta anak-anak yatim dari Yayasan Darul Falah Al Hasyimiyah.

Acara diawali dengan sambutan, penyerahan santunan, tausiah, hingga buka puasa bersama. Di sela-sela kebersamaan itu, dua pesan penting mengemuka: pentingnya sinergi polisi-media dan bahaya informasi hoax di era digital.
Kapolrestabes: Media Mitra Strategis Jaga Kamtibmas
Dalam sambutannya, Kombes Pol M. Syahduddi menyampaikan apresiasi mendalam kepada insan media yang selama ini berkontribusi dalam mendukung kinerja kepolisian melalui pemberitaan yang berimbang, akurat, dan transparan.

“Penyajian informasi yang profesional menjadi salah satu faktor penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian, khususnya dalam pengelolaan kamtibmas di Kota Semarang,” ujarnya.
Kapolrestabes menegaskan bahwa silaturahmi yang terjalin dengan baik akan melahirkan komunikasi yang produktif dan kooperatif. Hubungan yang harmonis antara kepolisian dan media, menurutnya, adalah kemitraan strategis dalam menjaga stabilitas keamanan sekaligus membangun optimisme masyarakat.
Ia juga menekankan komitmen Polrestabes Semarang untuk terus membuka ruang komunikasi dan keterbukaan informasi seluas-luasnya kepada rekan-rekan media.
“Sinergi yang konstruktif antara kepolisian dan pers menjadi elemen penting dalam mewujudkan Kota Semarang yang aman, kondusif, dan semakin maju,” tegasnya.
Wartawan Minta Polisi Lebih Responsif, Tapi Hormati Proses Hukum

Didit Cordiaz, Kontributor TV One Semarang yang mewakili insan pers dalam acara tersebut, menyampaikan harapan agar sinergi yang sudah terbangun bisa semakin kuat. Ia mengingatkan pentingnya prinsip “saring sebelum share” di tengah derasnya arus informasi digital.
“Insan pers dituntut untuk tetap menyajikan data yang valid dan mencerdaskan, bukan justru terjebak membuat narasi provokatif. Cek data, informasi valid, dan fakta yang tersaji adalah syarat mutlak insan pers untuk membuat informasi,” paparnya.
Wartawan senior, yang juga anggota IJTI (Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia) Pengda Jateng ini berharap aparat, khususnya di lingkungan Polrestabes Semarang, bisa lebih terbuka dan cepat dalam merespons peristiwa yang terjadi di masyarakat.
“Jadi kalau bisa, Pak Kapolres, izin untuk responsif ya terhadap kita. Karena kita butuh kecepatan informasi untuk kasus tertentu. Dan kami tidak akan mengintervensi untuk kasus-kasus yang bersifat penyidikan maupun penyelidikan, kami maklumi itu,” ujarnya.
Ia menyoroti maraknya kasus di media sosial yang membutuhkan klarifikasi cepat dan akurat. Menurutnya, jika polisi bisa menangkap dengan baik dan memberikan klarifikasi, awak media siap memberitakan kebenaran fakta di lapangan.
“Terkait narasi-narasi berita hoax maupun informasi yang menyesatkan yang semakin hari semakin marak terjadi, kami siap jadi mitra untuk meluruskannya,” imbuhnya.
Kebersamaan yang Membawa Berkah

Kegiatan yang berlangsung penuh keakraban dan kekeluargaan ini juga diisi tausiah oleh Kasat Tahti Kompol Pujiono, serta sesi foto bersama. Momen Ramadan ini diharapkan tidak hanya mempererat hubungan antara Polrestabes Semarang dan insan pers, tetapi juga menghadirkan kepedulian sosial melalui berbagi kebahagiaan bersama anak-anak yatim.
Pantauan di lokasi, puluhan anak yatim tampak antusias mengikuti acara hingga berbuka puasa bersama. Senyum dan keceriaan mereka menjadi pelengkap hangatnya silaturahmi di bulan suci.
Catatan Redaksi
Di tengah hiruk-pikuk pemberitaan yang kerap diwarnai ketegangan antara aparat dan media, acara buka puasa bersama seperti ini menjadi oase tersendiri. Bukan sekadar seremoni tahunan, tapi ruang dialog yang mengingatkan kedua belah pihak pada fungsi masing-masing.
Polisi butuh media untuk menyampaikan kebenaran ke publik. Media butuh polisi sebagai sumber informasi yang kredibel. Ketika keduanya duduk bersama, yang lahir bukan hanya hubungan institusional, tapi pemahaman bersama tentang bahaya hoax dan pentingnya verifikasi.
Pesan Didit tentang “saring sebelum share” relevan untuk semua, bukan hanya wartawan, tapi juga aparat yang kini aktif di media sosial, dan masyarakat yang menerima banjir informasi setiap hari. Di era di mana siapa pun bisa menjadi “penerbit”, profesi jurnalistik justru menemukan relevansinya, menghadirkan fakta di tengah riuh opini.
Semoga kebersamaan ini bukan sekadar acara tahunan, tapi jadi komitmen bersama bahwa kebenaran adalah milik publik, dan tugas kitalah, polisi dan media, untuk menjaganya.



