Minggu, 26 April 2026
31 C
Semarang

Sahur On The Rail: Jajaran KAI Daop 4 Semarang Tilik Perlintasan Rawan di Waktu Subuh

sahur-on-the-rail-kai-daop-4-semarang

Berita Terkait

SEMARANG, PortalJateng.id – Dini hari biasanya identik dengan keheningan. Tapi tidak bagi mereka yang bertugas menjaga keselamatan perjalanan kereta api. Sabtu (7/3/2026) dini hari, saat sebagian besar warga masih terlelap atau bersiap sahur, jajaran PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 4 Semarang justru bergerak menyusuri rel.

Dengan membawa nasi kotak dan segelas air untuk sahur, mereka mendatangi sejumlah perlintasan sebidang di jalur utara. Bukan sekadar bagi-bagi takjil, ini adalah agenda Sahur On The Rail (SOTR), kegiatan tahunan yang memadukan kebersamaan Ramadan dengan misi serius, guna memastikan keselamatan di jam-jam rawan.

Manager Humas KAI Daop 4 Semarang, Luqman Arif, menjelaskan bahwa kegiatan ini menyasar perlintasan dengan tingkat risiko tinggi, terutama saat waktu sahur hingga subuh.

“Kami melakukan tilik langsung ke JPL (Jalur Perlintasan Langsung) 26, 29, dan 37 di petak Kaliwungu – Kalibodri, serta JPL 53 dan 65 di petak Kalibodri – Weleri. Waktu menjelang sahur hingga subuh itu rawan karena aktivitas masyarakat masih berlangsung, tapi kewaspadaan pengguna jalan sering menurun,” ujar Luqman dalam keterangan persnya.

Menjaga Perlintasan, Tanggung Jawab Besar yang Butuh Nyali

Di balik setiap perlintasan yang dijaga, ada petugas yang harus rela begadang, menahan kantuk, dan tetap fokus meski tubuh lelah. Tanggung jawab mereka luar biasa, lengah sedikit, nyawa taruhannya.

Bayangkan, di wilayah Daop 4 Semarang, kecepatan kereta api rata-rata mencapai 120 kilometer per jam. Dengan kecepatan itu, jarak pengereman sangat panjang. Kereta tidak bisa berhenti mendadak seperti kendaraan roda. Jika ada kendaraan nekat menerobos atau petugas terlambat menutup palang, tabrakan hampir pasti tak terhindarkan.

“Keselamatan di perlintasan sebidang adalah tanggung jawab bersama. Tapi ujung tombaknya ada di petugas kami yang berjaga 24 jam. Mereka pahlawan yang sering tidak terlihat,” tambah Luqman.

Catatan Kelam, 52 Nyawa Melayang di Perlintasan Sepanjang 2025

Sayangnya, kesadaran masyarakat untuk mematuhi aturan di perlintasan masih jauh panggang dari api. Data dari KAI Daop 4 Semarang mencatat angka yang memprihatinkan.

Sepanjang tahun 2025, terjadi 61 kecelakaan di jalur kereta api dan perlintasan sebidang di wilayah Daop 4. Akibatnya, 52 orang meninggal dunia, 4 orang luka berat, dan 11 orang luka ringan. Artinya, hampir setiap pekan ada nyawa yang melayang karena kelalaian di perlintasan.

Memasuki tahun 2026, angkanya belum juga membaik. Hingga 26 Februari 2026, sebulan sebelum kegiatan SOTR ini digelar, telah terjadi 10 kecelakaan dengan 16 korban meninggal dunia. Satu orang luka berat dan satu luka ringan.

Bukan Petugas, Tapi Pengguna Jalan yang Lalai

Pertanyaannya, apakah kecelakaan ini disebabkan kelalaian petugas penjaga perlintasan? Faktanya, justru sebaliknya.

Sepanjang penelusuran data, tidak ditemukan catatan kecelakaan akibat petugas lengah. Mayoritas insiden terjadi karena pengguna jalan nekat menerobos palang atau tidak memperhatikan rambu.

Kasus tragis di Grobogan (Mei 2025) misalnya. Seorang ibu muda dan anak perempuannya yang baru berusia tiga tahun tewas tertemper KA Blora Jaya setelah menerobos palang yang sudah tertutup. Masinis sudah membunyikan klakson berkali-kali, tapi pengendara tetap memaksa.

Bulan berikutnya, tiga anak sekolah menjadi korban di perlintasan tanpa palang antara Stasiun Tegowanu dan Brumbung, Demak. Satu orang meninggal di tempat. Masinis KA Sembrani sudah membunyikan peringatan, tapi jarak sudah terlalu dekat.

Bahkan di perlintasan terjaga sekalipun, kecelakaan tetap terjadi. KA Harina vs truk di Kaligawe (Oktober 2025) menjadi contoh. Palang sudah tertutup, masinis sudah klakson, tapi truk masih nekat melintas dan terjebak kemacetan. Tabrakan tak terhindarkan. Beruntung tidak ada korban jiwa, tapi lokomotif rusak parah.

Beban Mental Petugas Jaga

Di balik setiap kecelakaan itu, ada petugas jaga yang harus menahan beban mental. Mereka sudah menjalankan tugas sesuai prosedur, tapi tetap harus menyaksikan nyawa melayang di depan mata.

“Saya pernah bertugas saat kejadian di Kaligawe. Palang sudah saya tutup, klakson sudah bunyi, tapi truk tetap jalan. Pas kereta datang, saya cuma bisa teriak dalam hati. Trauma itu sampai sekarang masih ada,” ujar salah satu petugas jaga yang enggan disebut namanya.

Makanya, kegiatan tilik dini hari seperti ini bukan sekadar formalitas. Kehadiran para manajer dan staf KAI di lapangan adalah bentuk dukungan moral: mereka tidak sendirian.

Harapan, Kesadaran Kolektif untuk Selamat Bersama

Usai memantau sejumlah titik, jajaran KAI Daop 4 berkumpul untuk sahur bersama. Sederhana, tapi hangat. Di sela suapan nasi, mereka berdiskusi ringan, tentang keluarga, tentang mudik, juga tentang bagaimana menekan angka kecelakaan.

“Kami berharap kegiatan ini bisa meningkatkan kesadaran masyarakat. Kami tidak bisa bekerja sendiri. Keselamatan di perlintasan butuh peran semua pihak, pengguna jalan, pemerintah, dan tentu saja petugas kami yang luar biasa,” pesan Luqman.

Ia mengingatkan kembali imbauan yang mungkin sudah hafal di telinga, tapi sering diabaikan, “Berhenti, lihat kiri-kanan, pastikan aman, baru melintas.”

Catatan Redaksi

Sahur On The Rail mungkin terdengar seperti kegiatan seremonial biasa. Tapi di baliknya, ada pesan besar tentang nyawa dan tanggung jawab.

Petugas jaga perlintasan adalah garda terdepan yang sering dilupakan. Mereka bekerja saat orang lain tidur, menahan kantuk saat sahur, dan tetap tersenyum meski tubuh lelah. Mereka tahu, satu detik kelengahan bisa berarti petaka. Satu nyawa melayang, satu keluarga hancur.

Data 52 kematian di perlintasan sepanjang 2025 adalah alarm yang tak boleh diabaikan. Bukan petugas yang lalai, tapi pengguna jalan yang abai. Maka, sebelum menyalahkan KAI atau petugas jaga, coba tanya diri sendiri, apakah saya sudah berhenti dan melihat ke kiri-kanan sebelum melintas?

Keselamatan itu sederhana. Tapi sering kita rumitkan dengan ego dan kebiasaan buruk. Semoga Ramadan ini membawa berkah, sekaligus kesadaran baru, bahwa di setiap perlintasan, ada petugas yang berharap kita tiba di tujuan dengan selamat. Jangan sia-siakan harapan mereka.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru