Semarang – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko, meminta proses seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat provinsi berlangsung transparan dan objektif. Ia mengingatkan agar tidak ada pihak yang melakukan intervensi maupun menitipkan nama peserta tertentu dalam proses penyaringan.
Menurut Heri, Paskibraka merupakan wadah pembentukan karakter generasi muda sekaligus menjadi representasi daerah dalam momentum penting kenegaraan. Karena itu, peserta yang terpilih harus benar-benar berdasarkan kemampuan, integritas, kedisiplinan, dan hasil seleksi.
“Seleksi Paskibraka harus benar-benar objektif. Jangan ada titipan atau intervensi dari pihak mana pun. Biarkan peserta yang memiliki kemampuan dan memenuhi seluruh persyaratan yang terpilih,” ujar Heri.
Berdasarkan data Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Jawa Tengah, sebanyak 70 peserta dari 35 kabupaten/kota mengikuti seleksi tingkat provinsi sejak Juni 2026. Dari proses tersebut, sebanyak 45 pelajar ditetapkan berhak bertugas sebagai Paskibraka tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Heri mengapresiasi proses seleksi yang dilakukan dengan mengedepankan mekanisme penyaringan. Menurutnya, transparansi penting untuk menjaga kepercayaan peserta maupun masyarakat terhadap proses rekrutmen Paskibraka.
“Kalau prosesnya transparan dan kriterianya jelas, peserta akan menerima hasil seleksi dengan baik. Yang kita bangun bukan hanya kemampuan baris-berbaris, tetapi juga rasa percaya diri, disiplin, tanggung jawab, dan jiwa kebangsaan,” katanya.
Selain memilih Paskibraka tingkat provinsi, Jawa Tengah juga berhasil meloloskan satu pasang putra-putri terbaik untuk bertugas di Istana Negara pada Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Dua pelajar tersebut yakni Dimas Putra dari Kota Salatiga dan Nada dari Kabupaten Cilacap.

Heri menilai keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa pelajar Jawa Tengah memiliki potensi untuk bersaing di tingkat nasional. Ia berharap prestasi tersebut menjadi motivasi bagi peserta lain untuk terus mengembangkan kemampuan dan karakter.
Menurutnya, proses pembinaan tidak boleh berhenti setelah peserta terpilih. Para anggota Paskibraka perlu mendapatkan pendampingan agar nilai-nilai kedisiplinan, kepemimpinan, nasionalisme, dan tanggung jawab yang diperoleh selama proses pembinaan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Mereka adalah generasi muda yang nantinya akan menjadi bagian dari masa depan bangsa. Karena itu, Paskibraka harus menjadi ruang untuk membentuk karakter dan kepemimpinan, bukan sekadar menjalankan tugas pada upacara,” ujarnya.
Heri juga berharap seluruh pihak menghormati hasil seleksi yang telah dilakukan. Menurutnya, menjaga integritas proses seleksi merupakan bagian penting dalam memberikan penghargaan yang adil kepada para pelajar yang telah mengikuti tahapan dengan sungguh-sungguh.
“Jangan sampai ada peserta yang sudah berjuang dan memenuhi kriteria justru kalah karena intervensi. Kita harus memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh pelajar untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya,” pungkasnya.



