Selasa, 26 Mei 2026
26 C
Semarang

Waspada Glaukoma, Penyakit Mata Tanpa Gejala yang Dapat Berujung Kebutaan Permanen Jika Terlambat Ditangani

Berita Terkait

Semarang — Glaukoma menjadi salah satu ancaman serius bagi kesehatan mata karena sering berkembang tanpa gejala dan dapat menyebabkan kebutaan permanen. Penyakit ini bahkan tercatat sebagai penyebab kebutaan tertinggi kedua di dunia setelah katarak, sehingga deteksi dini menjadi langkah penting untuk mencegah kerusakan penglihatan yang tidak dapat dipulihkan.

Hal tersebut disampaikan dalam rangka peringatan Pekan Glaukoma Sedunia (World Glaucoma Week) 2026 yang berlangsung pada 8–14 Maret 2026. Melalui momentum ini, JEC Group mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap glaukoma yang kerap disebut sebagai silent thief of sight atau pencuri penglihatan karena sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.

Glaukoma merupakan penyakit saraf mata progresif yang merusak saraf optik secara perlahan. Salah satu penyebabnya adalah peningkatan tekanan di dalam bola mata. Dalam kondisi normal, tekanan bola mata berada pada kisaran 10–21 mmHg. Namun ketika tekanan meningkat atau saraf optik menjadi lebih rentan, kerusakan dapat terjadi secara bertahap hingga menyebabkan penyempitan lapang pandang dan berujung pada kebutaan permanen.

Berbeda dengan katarak yang kebutaannya masih dapat dipulihkan melalui operasi, kebutaan akibat glaukoma bersifat permanen. Artinya, kerusakan penglihatan yang sudah terjadi tidak dapat diperbaiki kembali. Karena itu, berbagai upaya penanganan glaukoma bertujuan mempertahankan fungsi penglihatan yang masih tersisa serta mencegah kerusakan yang lebih luas.

Secara global, glaukoma menjadi masalah kesehatan mata yang terus meningkat. Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah, jumlah penderita glaukoma di dunia diperkirakan mencapai sekitar 76 juta orang pada 2020 dan berpotensi meningkat menjadi sekitar 111,8 juta orang pada 2040 seiring pertumbuhan populasi serta meningkatnya angka harapan hidup.

Lebih dari 3,6 juta orang di dunia telah mengalami kebutaan akibat glaukoma, dan jumlah ini diperkirakan dapat meningkat hingga sekitar 5,5 juta orang pada 2040 apabila tidak dilakukan intervensi yang memadai. Di negara berkembang, sekitar 80–90 persen kasus glaukoma tidak terdiagnosis karena penyakit ini sering berkembang tanpa gejala pada tahap awal.

Di Indonesia, prevalensi glaukoma diperkirakan mencapai sekitar 0,46 persen atau sekitar 4–5 orang per 1.000 penduduk. Angka tersebut menunjukkan bahwa glaukoma masih menjadi masalah kesehatan mata yang perlu mendapat perhatian serius.

Ketua Glaukoma Service JEC Group, Prof. DR. Dr. Widya Artini Wiyogo, SpM(K), mengatakan mayoritas penderita glaukoma tidak menyadari kondisi yang dialaminya karena penyakit ini sering tidak menimbulkan gejala.

“Mayoritas kasus glaukoma tidak menunjukkan gejala sehingga sering baru terdeteksi saat pemeriksaan kesehatan. Namun jika muncul keluhan seperti sakit kepala hebat, penglihatan mendadak kabur, mual, muntah, atau nyeri mata, masyarakat perlu segera memeriksakan diri. Karena itu, skrining mata secara berkala sangat penting untuk mendeteksi glaukoma lebih dini,” ujarnya.

Kondisi ini juga menjadi perhatian di wilayah Jawa Tengah yang memiliki jumlah penduduk besar serta kebutuhan layanan kesehatan mata yang terus meningkat. Berdasarkan hasil survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) di 15 provinsi di Indonesia, jumlah penduduk usia lanjut yang mengalami kebutaan di Jawa Tengah diperkirakan mencapai sekitar 176.977 orang, menjadikannya salah satu provinsi dengan jumlah penderita kebutaan terbesar di Indonesia.

Dengan tingginya jumlah penduduk serta meningkatnya faktor risiko seperti usia lanjut, diabetes, riwayat keluarga dengan glaukoma, serta kelainan refraksi, edukasi dan pemeriksaan mata secara berkala menjadi langkah penting untuk mencegah kerusakan penglihatan permanen akibat glaukoma.

Menurut Prof. Widya, beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami glaukoma, antara lain riwayat keluarga dengan penyakit yang sama, diabetes melitus, penggunaan obat steroid dalam jangka panjang, kelainan refraksi tinggi seperti miopia atau hipermetropia, katarak, serta riwayat trauma pada mata. Meski lebih sering terjadi pada usia di atas 40 tahun, glaukoma sebenarnya dapat menyerang semua kelompok usia, bahkan bayi.

Berdasarkan data American Academy of Ophthalmology, glaukoma kongenital atau glaukoma bawaan dapat terjadi pada sekitar satu dari 10.000 hingga 20.000 kelahiran.

Glaukoma sendiri memiliki beberapa jenis dengan karakteristik berbeda. Jenis yang paling umum adalah glaukoma primer sudut terbuka yang berkembang secara perlahan dan sering tanpa gejala sehingga kerap tidak disadari hingga stadium lanjut. Sementara itu, glaukoma sudut tertutup dapat terjadi secara mendadak dengan gejala seperti nyeri mata hebat, mata merah, sakit kepala, mual, dan penglihatan kabur sehingga memerlukan penanganan medis segera. Selain itu terdapat pula glaukoma kongenital yang terjadi pada bayi akibat kelainan bawaan pada sistem aliran cairan mata, serta glaukoma sekunder yang disebabkan oleh kondisi lain seperti cedera mata, penggunaan obat steroid jangka panjang, diabetes, atau penyakit mata tertentu.

Dokter Mata di JEC CANDI @ Semarang, DR. Dr. Fifin Luthfia Rahmi, MS, SpM(K), menjelaskan bahwa kerusakan penglihatan akibat glaukoma bersifat permanen sehingga pencegahan melalui deteksi dini menjadi sangat penting.

“Glaukoma sering disebut sebagai silent thief of sight karena kerusakan saraf optik terjadi secara perlahan tanpa gejala yang jelas. Banyak pasien baru datang ketika lapang pandangnya sudah menyempit. Dengan diagnosis yang tepat serta pemantauan yang teratur, perkembangan penyakit dapat dikendalikan sehingga kualitas penglihatan pasien tetap terjaga,” jelasnya.

Diagnosis glaukoma biasanya dilakukan melalui serangkaian pemeriksaan mata, antara lain pengukuran tekanan bola mata atau tonometri, pemeriksaan struktur saraf optik menggunakan Optical Coherence Tomography (OCT), pemeriksaan lapang pandang atau visual field test, serta pemeriksaan sudut drainase mata melalui gonioskopi.

Penanganan glaukoma dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan. Terapi awal yang paling umum adalah penggunaan obat tetes mata untuk menurunkan tekanan bola mata, baik dengan cara mengurangi produksi cairan mata maupun meningkatkan aliran keluarnya.

Selain itu, terapi laser juga menjadi salah satu pilihan penanganan yang efektif dan minimal invasif. Salah satunya adalah Selective Laser Trabeculoplasty (SLT) yang membantu meningkatkan aliran keluar cairan mata melalui jaringan trabekular sehingga tekanan bola mata dapat menurun. Prosedur ini biasanya berlangsung sekitar 5–10 menit tanpa memerlukan sayatan, dan pasien umumnya dapat kembali beraktivitas setelah tindakan.

Pada kasus tertentu, dokter juga dapat melakukan Laser Peripheral Iridotomy (LPI) untuk membuat jalur kecil pada iris guna memperlancar aliran cairan mata dan mencegah peningkatan tekanan bola mata secara mendadak, terutama pada glaukoma sudut tertutup.

Jika tekanan bola mata tidak dapat dikontrol dengan obat maupun terapi laser, tindakan operasi dapat dilakukan. Beberapa prosedur yang tersedia antara lain trabekulektomi, pemasangan glaucoma drainage device, serta teknik bedah modern Minimally Invasive Glaucoma Surgery (MIGS) yang menggunakan sayatan minimal dengan masa pemulihan lebih cepat.

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat, JEC CANDI @ Semarang juga menggelar berbagai kegiatan edukasi dalam rangka Pekan Glaukoma Sedunia 2026. Kegiatan tersebut meliputi seminar publik pada 7 Maret 2026 yang membahas bahaya glaukoma, faktor risiko, serta pentingnya pemeriksaan mata secara rutin.

Selain itu, JEC juga mengadakan talkshow radio pada 9 Maret 2026 yang membahas deteksi dini glaukoma, gejala yang perlu diwaspadai, serta langkah-langkah pencegahan untuk menjaga kesehatan penglihatan. Kegiatan edukatif lainnya juga dilakukan melalui diskusi bersama agen asuransi untuk membahas pentingnya pemeriksaan mata berkala serta peran proteksi kesehatan dalam penanganan penyakit mata kronis seperti glaukoma.

Melalui berbagai kegiatan tersebut, JEC CANDI @ Semarang berharap semakin banyak masyarakat memahami bahwa glaukoma dapat berkembang tanpa gejala pada tahap awal. Oleh karena itu, pemeriksaan mata secara rutin menjadi langkah penting untuk mendeteksi penyakit ini lebih awal dan mencegah terjadinya kebutaan permanen.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru