Sabtu, 9 Mei 2026
30.9 C
Semarang

Kemenkes Tegaskan: Hantavirus Tidak Menular Mudah Antar Manusia

Dua kasus suspek terakhir dinyatakan negatif

Berita Terkait

JAKARTA, PortalJateng.id – Media sosial belakangan diramaikan dengan informasi tentang hantavirus virus yang dibawa tikus dan disebut-sebut mematikan. Ada yang panik. Ada yang mulai membersihkan rumah dengan ekstra ketat. Ada pula yang bertanya-tanya, apakah ini pandemi baru?

Tenang. Pemerintah dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah berbicara.

Kementerian Kesehatan RI mencatat, sepanjang 2024 hingga April 2026, terdapat 23 kasus terkonfirmasi hantavirus di Indonesia dari total 251 kasus suspek yang diperiksa. Angka ini tersebar di sembilan provinsi, dengan DKI Jakarta dan DI Yogyakarta sebagai wilayah dengan kasus terbanyak (masing-masing 6 kasus).

Dari 23 kasus tersebut, 20 pasien dinyatakan sembuh dan 3 pasien meninggal dunia. Angka kematian atau case fatality rate (CFR) mencapai 13 persen.

Tapi yang perlu digarisbawahi, dua kasus suspek terakhir yang sempat menjadi perhatian masing-masing di Jakarta Utara dan Kulon Progo, Yogyakarta telah dinyatakan negatif pada Jumat (8/5/2026).

Artinya, saat ini tidak ada kasus suspek hantavirus yang tersisa di Indonesia.

“Sampai saat ini belum ada penambahan kasus lagi,” tegas Aji Muhawarman, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Jumat (8/5/2026).

Dari Mana Virus Ini Berasal?

Hantavirus bukanlah virus baru. Ia telah dikenal dalam dunia medis sejak beberapa dekade lalu. Virus ini termasuk dalam keluarga Orthohantavirus dan dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus dan celurut.

Penularan ke manusia bukan melalui gigitan langsung, melainkan melalui udara yang terkontaminasi oleh urine, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi. Saat kotoran tikus kering dan tersapu baik oleh sapu atau tertiup angin partikel virus bisa terhirup manusia.

WHO dalam laman resminya menjelaskan bahwa risiko penularan antar manusia sangat jarang terjadi. Hanya strain Andes virus yang dilaporkan dalam wabah di kapal pesiar MV Hondius yang memiliki potensi penularan terbatas antar manusia, itupun hanya melalui kontak yang sangat dekat dan intensif dengan pasien bergejala berat.

“Hantaviruses are a group of viruses carried by rodents that can cause severe disease in humans. Spread between people is uncommon,” papar Dr. Maria Van Kerkhove, Direktur Kesiapsiagaan Epidemi dan Pandemi WHO, dalam konferensi pers di Jenewa, 4 Mei 2026.

WHO menilai risiko hantavirus terhadap populasi global saat ini RENDAH.

Dua Sindrom yang Perlu Dikenali

Hantavirus menyebabkan dua sindrom utama :

1. HFRS (Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome) — umum ditemukan di Asia dan Eropa.

Gejala: demam tinggi, nyeri punggung, mual, gangguan ginjal.

2. HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome) — dominan di Amerika.

Gejala: demam, batuk, sesak napas, hingga gagal napas akut.

Masa inkubasi virus ini berkisar antara 1 hingga 8 minggu (rata-rata 2-4 minggu) setelah terpapar.

Kesulitannya, gejala awal hantavirus mirip dengan flu biasa atau demam berdarah demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah. Karena itu, jangan self-diagnosis. Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala tersebut, terutama jika Anda tinggal di lingkungan yang berisiko tinggi populasi tikus.

Apa yang Dilakukan Pemerintah?

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa pemerintah telah berkoordinasi dengan WHO untuk memperkuat skrining dan deteksi dini.

Upaya yang dilakukan meliputi:

✅ Pemantauan situasi melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR)
✅ Pemantauan pelaku perjalanan dari negara terjangkit
✅ Komunikasi risiko terkait penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
✅ Penyediaan pedoman pencegahan dan media edukasi
✅ Penerbitan surat edaran kewaspadaan
✅ Pengendalian populasi rodensia (tikus) sebagai reservoir virus

Seluruh fasilitas kesehatan rujukan juga telah disiagakan dengan protokol diagnosis dan penanganan yang tepat. Stok reagen diagnostik dan obat-obatan pendukung dalam kondisi aman.

WHO sendiri telah mengalokasikan dana darurat dari Contingency Fund for Emergencies untuk mendukung upaya penanganan global.

lingkungan berisiko jangan tunda ke fasilitas kesehatan.

Langkah Pencegahan Sederhana (Tapi Penting)

Kabar baiknya, hantavirus bisa dicegah dengan langkah-langkah yang tidak rumit. Kuncinya, jauhkan tikus dari rumah dan lingkungan Anda.

Berikut panduan dari CDC dan Kemenkes :

✅ Jaga kebersihan rumah dan lingkungan
Hindari penumpukan sampah dan makanan yang dapat mengundang tikus. Bersihkan secara rutin area yang berpotensi menjadi sarang tikus.

✅ Tutup akses tikus ke dalam rumah
Perbaiki lubang-lubang dinding, celah pintu, jendela, dan saluran udara. Tikus bisa masuk melalui lubang sekecil 1 cm.

✅ Simpan makanan dalam wadah tertutup
Jangan biarkan makanan terbuka, terutama di malam hari saat tikus aktif mencari makan.

✅ Cara membersihkan kotoran tikus yang AMAN, ini yang paling penting:

  • JANGAN disapu atau divakum! Partikel virus akan beterbangan di udara.
  • ✅ Buka jendela dan ventilasi ruangan selama minimal 30 menit.
  • ✅ Pakai masker (N95 lebih baik) dan sarung tangan karet.
  • ✅ Semprot kotoran tikus dengan larutan pemutih (bleach) atau disinfektan.
  • ✅ Diamkan selama 5 menit, lalu lap dengan kain basah.
  • ✅ Buang kotoran dan kain bekas ke dalam kantong plastik tertutup.
  • ✅ Cuci tangan dengan sabun segera setelah selesai.

✅ Cuci tangan dengan sabun
Setelah beraktivitas di luar rumah, berkebun, atau sebelum makan.

✅ Segera periksakan diri jika gejala muncul
Jika mengalami demam tinggi mendadak, nyeri otot, sakit kepala hebat terutama setelah kontak dengan lingkungan berisiko jangan tunda ke fasilitas kesehatan.

Hindari Hoaks, Tenang Tapi Waspada

Di era media sosial, informasi yang tidak bertanggung jawab bisa menyebar lebih cepat daripada virus itu sendiri. Beberapa akun mungkin melebih-lebihkan risiko, memicu kepanikan, atau menyebarkan klaim yang tidak berdasar.

Pemerintah mengimbau masyarakat untuk:

Verifikasi informasi dari sumber resmi: Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan setempat, atau WHO
Tidak menyebarluaskan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya
Laporkan akun-akun yang sengaja menyebarkan informasi menyesatkan atau memicu kepanikan

Menteri Kesehatan Inggris, Yvette Cooper, dalam pernyataan resmi pemerintah Inggris, menegaskan:

“The risk to the UK population is very low and there is no need for concern among the general public. Hantaviruses are very rarely transmitted from person to person.”

Africa CDC juga menyatakan bahwa wabah yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius saat ini tampaknya terbatas di kapal tersebut, dengan risiko terhadap populasi umum tetap rendah.

Catatan Redaksi

Hantavirus bukanlah COVID-19 baru. Ia tidak menular semudah virus pernapasan. Ia tidak mengudara melalui batuk atau bersin. Ia tidak akan mewabah dalam skala pandemi jika kita menjaga kebersihan.

Tapi hantavirus juga bukan hal yang bisa diabaikan. 23 kasus dalam tiga tahun, 3 di antaranya meninggal. Itu angka kecil, tapi setiap kematian adalah tragedi bagi keluarga yang ditinggalkan.

Ancaman sesungguhnya dari hantavirus bukanlah virus itu sendiri. Ancaman terbesar adalah lingkungan kumuh, rumah yang tidak bersih, tikus yang berkeliaran bebas karena sampah menumpuk. Virus ini adalah penyakit kemiskinan dan ketidaksadaran ia subur di tempat-tempat yang higienitasnya diabaikan.

Kabar baiknya, pencegahannya sederhana. Tidak butuh vaksin. Tidak butuh obat mahal. Cukup bersih. Cukup sapu. Cukup tutup lubang-lubang di dinding. Cukup buang sampah pada tempatnya.

PortalJateng.id mencatat, ketakutan adalah respons alami. Tapi informasi yang benar adalah obat yang lebih mujarab. Mari hadapi hantavirus dengan fakta, bukan hoaks. Dengan langkah preventif, bukan kepanikan. Dan ingat, tikus tidak akan datang jika kita tidak mengundangnya dengan sampah dan makanan berserakan.

Jaga kebersihan. Jaga keluarga. Dan jangan panik.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru