Minggu, 21 Juni 2026
28 C
Semarang

150 Penari Merangkai Kembali Jejak Akulturasi Budaya Ceng Ho di Semarang

Berita Terkait


Semarang
 – Malam itu, Sam Poo Kong tidak hanya menjadi tempat wisata yang ramai dikunjungi masyarakat. Kawasan bersejarah di Simongan, Semarang, itu berubah menjadi panggung besar yang membawa penonton menembus waktu, kembali ke masa ketika armada Laksamana Ceng Ho berlayar melintasi lautan dan singgah di pesisir Jawa.

Melalui sendratari The Legend of Cheng Ho, Sanggar Greget Semarang menghadirkan kembali kisah yang telah berusia lebih dari enam abad. Bukan sekadar tentang pelayaran seorang laksamana dari Tiongkok, tetapi tentang awal mula perjumpaan budaya yang kemudian membentuk wajah Semarang seperti yang dikenal saat ini.

Di bawah cahaya lampu panggung, para penari bergerak mengikuti irama musik yang mengalun. Adegan demi adegan menggambarkan perjalanan panjang Ceng Ho bersama armadanya, hingga akhirnya berlabuh di Semarang. Kisah yang selama ini hidup dalam catatan sejarah dan cerita turun-temurun itu diterjemahkan ke dalam gerak tari yang memikat.

Bagi Sanggar Greget, memilih kisah Ceng Ho bukan tanpa alasan. Semarang memiliki hubungan yang erat dengan tokoh tersebut. Kehadirannya di masa lampau diyakini menjadi salah satu titik penting lahirnya akulturasi budaya yang hingga kini masih menjadi ciri khas kota pesisir tersebut.

Ketua Sanggar Greget Semarang, Sangghita Anjali, mengatakan Semarang tumbuh sebagai kota yang terbuka terhadap berbagai pengaruh budaya. Karena itu, kisah Ceng Ho dinilai relevan untuk kembali dikenalkan kepada masyarakat, terutama generasi muda.

“Persinggahan Ceng Ho menjadi simbol akulturasi budaya. Dari peristiwa itu lahir pertemuan berbagai tradisi yang kemudian berkembang menjadi bagian dari identitas Semarang,” ujarnya, Sabtu 20 Juni 2026.

Semarang memang memiliki sejarah panjang sebagai kota pelabuhan. Letaknya yang strategis membuat kota ini sejak dahulu menjadi tempat singgah para pedagang dan pelaut dari berbagai wilayah. Dari proses itulah lahir perpaduan budaya yang terlihat dalam kehidupan masyarakat, mulai dari tradisi, bahasa, kuliner, hingga kesenian.

Pengasuh Sanggar Greget, Yoyok Bambang Priyambodo, menilai keberagaman tersebut merupakan kekuatan yang membuat Semarang berbeda dari kota-kota lain.

“Semarang kaya karena banyak budaya yang bertemu di sini. Akulturasi bukan sesuatu yang harus dihindari, justru menjadi kekayaan yang perlu dijaga,” katanya.

Pesan itulah yang menjadi benang merah dalam pertunjukan. Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, sejarah dan kebudayaan tetap memiliki ruang untuk dikenang dan dipelajari.

Menariknya, kisah besar itu diperankan oleh generasi muda. Sebagian besar penampil masih berstatus pelajar. Selama berbulan-bulan mereka berlatih untuk memahami cerita, menghafal gerak, dan membangun kekompakan di atas panggung.

Bagi Canadian Mahendra yang memerankan Laksamana Ceng Ho, tantangan terbesar bukanlah menguasai koreografi, melainkan memahami sosok yang diperankannya.

“Yang paling penting adalah memahami karakter Ceng Ho terlebih dahulu. Setelah itu baru diterjemahkan ke dalam gerak dan ekspresi di atas panggung,” ujarnya.

Upaya tersebut menjadi bukti bahwa seni pertunjukan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Di dalamnya terdapat ruang untuk belajar sejarah, memahami nilai-nilai budaya, dan merawat ingatan kolektif sebuah kota.

Ketika pertunjukan berakhir dan tepuk tangan penonton bergema di halaman Sam Poo Kong, yang tersisa bukan hanya kesan atas megahnya pementasan. Ada pesan yang lebih dalam tentang bagaimana sebuah kota dibentuk oleh pertemuan berbagai budaya, lalu tumbuh menjadi ruang bersama yang harmonis.

Enam abad telah berlalu sejak armada Ceng Ho berlayar ke Semarang. Namun jejaknya masih terasa hingga kini. Bukan hanya melalui bangunan bersejarah yang berdiri kokoh, tetapi juga melalui semangat masyarakat yang terus merawat keberagaman sebagai bagian dari identitas kota.***

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru