SEMARANG, PortalJateng.id – Gelombang elektrifikasi kendaraan di Indonesia tak terbendung. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat lompatan fantastis, penjualan mobil listrik berbasis baterai (BEV) melesat dari 43.188 unit pada tahun 2024 menjadi 103.931 unit di tahun 2025. Itu berarti pertumbuhan lebih dari 141 persen hanya dalam setahun.
Namun di balik angka gemilang itu, ada konsekuensi yang jarang dibicarakan, bagaimana jika mobil-mobil canggih ini terlibat kecelakaan?
Pertanyaan itulah yang coba dijawab oleh Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Semarang dengan langkah antisipatif yang patut diapresiasi.
Pada Selasa (10/3/2026), Basarnas Semarang mengundang perwakilan dealer mobil listrik BYD Haka Auto untuk memberikan pelatihan khusus kepada personelnya. Bukan sekadar teori, tapi pengenalan langsung terhadap teknologi kendaraan listrik dan karakteristik sistem kelistrikannya.
Kepala Kantor SAR Semarang, Budiono, mengakui bahwa penanganan korban terjepit pada mobil listrik belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Padahal, potensi kecelakaan yang melibatkan kendaraan jenis ini akan semakin besar seiring bertambahnya populasi di jalan raya.
“Kami menghadirkan tim dari dealer BYD Semarang untuk dapat mengenalkan mobil listrik dengan cara kerjanya bagaimana dan apa yang bisa dan tidak bisa kami lakukan saat menangani kecelakaan mobil listrik yang penumpangnya terjepit kabin,” terang Budiono.
“Kegiatan ini bertujuan untuk menghindarkan personel kami dari hal-hal yang dapat membahayakan keselamatan,” sambungnya.
Mobil listrik menyimpan tegangan tinggi hingga 400-800 volt pada baterainya. Jika tidak ditangani dengan prosedur benar, proses evakuasi korban bisa berubah menjadi petaka bagi petugas itu sendiri. Risiko sengatan listrik, korsleting, hingga kebakaran akibat kerusakan baterai menjadi ancaman nyata yang tak bisa dianggap remeh.
Di Amerika Serikat, lembaga keselamatan lalu lintas nasional (NHTSA) bahkan mewajibkan setiap pabrikan menyediakan Emergency Response Guides, atau panduan khusus bagi petugas penyelamat yang berisi informasi detail tentang cara aman menangani kendaraan listrik dalam berbagai situasi darurat, mulai dari kebakaran, perendaman, hingga kebocoran cairan. Langkah Basarnas Semarang ini sejalan dengan standar global tersebut.
Dalam pelatihan tersebut, tim dari BYD tidak hanya memberikan pemaparan materi di dalam ruangan. Mereka juga membawa dua unit kendaraan listrik untuk diperkenalkan secara langsung kepada peserta, yaitu BYD Sealion 7 dan BYD M6.
Para personel diajak melihat secara langsung fitur-fitur keselamatan, sistem kelistrikan, serta komponen-komponen penting yang perlu mendapat perhatian khusus dalam situasi darurat. Mereka belajar tentang lokasi baterai, jalur kabel tegangan tinggi, hingga cara mengidentifikasi komponen berbahaya yang harus dihindari saat memotong bodi kendaraan untuk mengevakuasi korban.
BYD sendiri dikenal sebagai pabrikan yang serius mengembangkan teknologi keselamatan. Beberapa inovasi seperti Cell to Body (CTB) yang mengintegrasikan baterai ke dalam struktur bodi, serta Intelligence Torque Adaptive Control (iTAC) yang mampu mendeteksi selip dan menyesuaikan distribusi torsi dalam waktu sangat cepat, menjadi fitur unggulan yang tertanam di model-model terbaru mereka. Sistem pengereman darurat otonom (AEB) yang efektif juga menjadi nilai tambah untuk mengurangi risiko tabrakan.
Namun bagi tim SAR, fitur-fitur canggih itu justru menjadi tantangan baru. Mereka harus memahami struktur mobil yang berbeda dari kendaraan konvensional, agar proses evakuasi tidak merusak komponen vital atau memicu bahaya baru.
Antisipasi Menjelang Mudik
Waktu pelatihan ini tidak kebetulan. Menjelang arus mudik Lebaran 2026, volume kendaraan di jalan raya diprediksi melonjak drastis. Semakin banyak mobil, semakin tinggi potensi kecelakaan. Dan dengan komposisi mobil listrik yang semakin bertambah, petugas SAR harus siap menghadapi skenario yang belum pernah mereka temui sebelumnya.
“Materi yang disampaikan mencakup prosedur keselamatan serta langkah-langkah penanganan apabila terjadi kondisi darurat seperti kecelakaan yang melibatkan kendaraan listrik,” jelas Budiono.
Ia berharap, melalui kegiatan ini personel SAR Semarang dapat menambah wawasan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai potensi kejadian yang melibatkan kendaraan listrik.
“Sehingga proses pertolongan dan penyelamatan dapat dilakukan dengan lebih aman dan efektif,” pungkasnya.



